Lupa Jadi Diri Sendiri Wibu Weaboo, Wapanese Batas Tipis Antara Suka & Hilang Arah
Februari 13, 2011
menit
Antum pernah ketemu orang yang kalau ngomong nyelip “arigatou… gomennasai… desu” padahal lagi di warung depan gang? Atau yang namanya tiba-tiba berubah jadi penuh kanji, terus antum bingung nyari akunnya karena tiap bulan ganti lagi…
Nah, pertanyaannya bukan “salah nggak sih suka Jepang?”
Tapi… kapan rasa suka berubah jadi usaha kabur dari identitas sendiri?
Aku mau cerita tentang satu label yang sering banget dipakai orang, kadang buat bercanda, kadang buat ngejek, kadang juga buat merasa “lebih waras” dari orang lain. Namanya Weaboo atau Wapanese. Ini bukan cerita buat menghakimi antum yang suka anime, cosplay, atau J-pop. Bukan. Ini cuma sudut pandang lain… tentang batas halus antara apresiasi budaya dan kehilangan pijakan. Bayangin suasana timeline media sosial. Foto profil bukan wajah asli, tapi karakter anime. Nama akun bukan nama pemberian orang tua, tapi nama Jepang lengkap dengan huruf-huruf yang bikin orang lain nyerah bacanya. Di kamar, poster idol Jepang nempel rapih. Playlist isinya J-pop, J-rock, dorama, tokusatsu… hampir nggak ada ruang buat lagu negeri sendiri. Kalau pun ada, harus yang “vibes”-nya Jepang. Dan pelan-pelan, Jepang jadi semacam “rumah imajinasi”… tempat yang katanya lebih rapi, lebih keren, lebih hidup. Sementara “rumah asli” terasa… hambar. Awalnya ini cuma hobi. Aman. Seru. Terus naik level. Antum mulai merasa lebih “nyambung” sama budaya Jepang daripada budaya sendiri. Mulai bangga kalau bisa ngomong sedikit-sedikit bahasa Jepang. Bahkan ada yang bangga sama aksen Inggris ala Jepang, karena terasa “lebih Jepang”. Lalu muncul pola yang sering kejadian: Nama diganti total. Foto asli nyaris nggak ada. Kalau ada, diedit biar ada sakura, tulisan Jepang, atau nuansa “Tokyo”. Ikut cosplay, pakai kimono, yukata, seragam sekolah ala Jepang… bahkan kadang dipakai di tempat yang nggak pas. Dan di titik tertentu… sebagian orang mulai bukan sekadar “suka Jepang”, tapi mulai meremehkan yang dari sini. Lagu Indonesia dianggap jelek. Budaya Indonesia dianggap nggak keren. Nama sendiri dianggap beban. Di situlah orang lain mulai nyeletuk, “Nah ini baru weaboo. Ini yang kelewatan.” Bukan karena hobinya… tapi karena penolakannya terhadap diri sendiri.
Puncaknya biasanya bukan di event cosplay. Bukan di konser. Puncaknya itu momen kecil yang sunyi. Saat antum sadar, antum nggak lagi menikmati Jepang sebagai inspirasi… tapi menjadikan Jepang sebagai pelarian. Antum mulai berharap terlahir di sana. Tinggal di sana. Punya pasangan orang sana. Seolah-olah hidup baru bisa “mulai” kalau antum ganti tempat lahir. Padahal realitanya, hidup di Jepang juga keras. Biaya hidup tinggi. Tekanan kerja bisa gila. Dan bahkan orang Jepang sendiri banyak yang kesulitan dengan kanji, apalagi orang yang baru mulai belajar. Twist-nya: yang antum kejar bukan “Jepang”… tapi versi ideal yang antum bangun sendiri di kepala.
Jadi, Wapanese itu bukan sekadar orang yang suka budaya Jepang. Wapanese itu lebih ke orang yang bertingkah seolah-olah tinggal di Jepang, berharap lahir dan hidup di sana, padahal kenyataannya tidak. Weaboo pun mirip, sering ditujukan pada orang yang obsesinya sudah menutupi realita. Tapi aku juga paham satu hal… label-label ini sering dipakai kasar, merendahkan, dan bikin orang defensif. Dan itu nggak selalu adil. Karena semua orang punya hak buat suka sesuatu dan berekspresi. Masalahnya muncul saat hobi berubah jadi: menipu identitas, merendahkan budaya sendiri, mengabaikan tanggung jawab, atau sampai marah kalau hidup nggak bisa “serba Jepang”.
Sekarang aku lempar pertanyaan yang agak bikin panas… tapi jujur. Kalau antum bilang ini cuma selera, oke. Tapi kalau selera itu bikin antum malu sama nama sendiri, benci budaya sendiri, dan merasa hidup baru layak kalau jadi orang lain… itu masih selera, atau itu krisis identitas? Tulis pendapat antum. Aku pengen baca sudut pandang yang beda. Bisa jadi aku yang kurang paham, bisa jadi antum yang selama ini menormalisasi sesuatu yang “pelan-pelan mengikis”.
Kalau cerita kayak gini ngena, antum bisa follow dan share ke teman yang butuh sudut pandang lain… Kita bahas budaya pop lain yang juga sering jadi tempat orang “bersembunyi”… tanpa sadar.
![]() |
| mahasiswaindonesia.id |
Aku mau cerita tentang satu label yang sering banget dipakai orang, kadang buat bercanda, kadang buat ngejek, kadang juga buat merasa “lebih waras” dari orang lain. Namanya Weaboo atau Wapanese. Ini bukan cerita buat menghakimi antum yang suka anime, cosplay, atau J-pop. Bukan. Ini cuma sudut pandang lain… tentang batas halus antara apresiasi budaya dan kehilangan pijakan. Bayangin suasana timeline media sosial. Foto profil bukan wajah asli, tapi karakter anime. Nama akun bukan nama pemberian orang tua, tapi nama Jepang lengkap dengan huruf-huruf yang bikin orang lain nyerah bacanya. Di kamar, poster idol Jepang nempel rapih. Playlist isinya J-pop, J-rock, dorama, tokusatsu… hampir nggak ada ruang buat lagu negeri sendiri. Kalau pun ada, harus yang “vibes”-nya Jepang. Dan pelan-pelan, Jepang jadi semacam “rumah imajinasi”… tempat yang katanya lebih rapi, lebih keren, lebih hidup. Sementara “rumah asli” terasa… hambar. Awalnya ini cuma hobi. Aman. Seru. Terus naik level. Antum mulai merasa lebih “nyambung” sama budaya Jepang daripada budaya sendiri. Mulai bangga kalau bisa ngomong sedikit-sedikit bahasa Jepang. Bahkan ada yang bangga sama aksen Inggris ala Jepang, karena terasa “lebih Jepang”. Lalu muncul pola yang sering kejadian: Nama diganti total. Foto asli nyaris nggak ada. Kalau ada, diedit biar ada sakura, tulisan Jepang, atau nuansa “Tokyo”. Ikut cosplay, pakai kimono, yukata, seragam sekolah ala Jepang… bahkan kadang dipakai di tempat yang nggak pas. Dan di titik tertentu… sebagian orang mulai bukan sekadar “suka Jepang”, tapi mulai meremehkan yang dari sini. Lagu Indonesia dianggap jelek. Budaya Indonesia dianggap nggak keren. Nama sendiri dianggap beban. Di situlah orang lain mulai nyeletuk, “Nah ini baru weaboo. Ini yang kelewatan.” Bukan karena hobinya… tapi karena penolakannya terhadap diri sendiri.
Puncaknya biasanya bukan di event cosplay. Bukan di konser. Puncaknya itu momen kecil yang sunyi. Saat antum sadar, antum nggak lagi menikmati Jepang sebagai inspirasi… tapi menjadikan Jepang sebagai pelarian. Antum mulai berharap terlahir di sana. Tinggal di sana. Punya pasangan orang sana. Seolah-olah hidup baru bisa “mulai” kalau antum ganti tempat lahir. Padahal realitanya, hidup di Jepang juga keras. Biaya hidup tinggi. Tekanan kerja bisa gila. Dan bahkan orang Jepang sendiri banyak yang kesulitan dengan kanji, apalagi orang yang baru mulai belajar. Twist-nya: yang antum kejar bukan “Jepang”… tapi versi ideal yang antum bangun sendiri di kepala.
Jadi, Wapanese itu bukan sekadar orang yang suka budaya Jepang. Wapanese itu lebih ke orang yang bertingkah seolah-olah tinggal di Jepang, berharap lahir dan hidup di sana, padahal kenyataannya tidak. Weaboo pun mirip, sering ditujukan pada orang yang obsesinya sudah menutupi realita. Tapi aku juga paham satu hal… label-label ini sering dipakai kasar, merendahkan, dan bikin orang defensif. Dan itu nggak selalu adil. Karena semua orang punya hak buat suka sesuatu dan berekspresi. Masalahnya muncul saat hobi berubah jadi: menipu identitas, merendahkan budaya sendiri, mengabaikan tanggung jawab, atau sampai marah kalau hidup nggak bisa “serba Jepang”.
Sekarang aku lempar pertanyaan yang agak bikin panas… tapi jujur. Kalau antum bilang ini cuma selera, oke. Tapi kalau selera itu bikin antum malu sama nama sendiri, benci budaya sendiri, dan merasa hidup baru layak kalau jadi orang lain… itu masih selera, atau itu krisis identitas? Tulis pendapat antum. Aku pengen baca sudut pandang yang beda. Bisa jadi aku yang kurang paham, bisa jadi antum yang selama ini menormalisasi sesuatu yang “pelan-pelan mengikis”.
Kalau cerita kayak gini ngena, antum bisa follow dan share ke teman yang butuh sudut pandang lain… Kita bahas budaya pop lain yang juga sering jadi tempat orang “bersembunyi”… tanpa sadar.
