ReLIFE: Kesempatan Kedua Ternyata Nggak Semanis Itu, Mau?
Februari 23, 2017
menit
Coba bayangin gini… antum tidur sebagai orang dewasa yang udah capek sama hidup, terus bangun-bangun umur antum balik jadi 17 tahun. Seragam sekolah. Kelas. Ujian. Drama temen-temen.
Pertanyaannya bukan “mau atau nggak”. Tapi… antum berani nggak ngulang semuanya dengan kepala orang dewasa?
Karena ReLIFE tuh bukan cuma soal balik SMA. Itu soal… ngadepin penyesalan yang biasanya kita tutup rapat-rapat.
Aku mau cerita pengalaman yang agak personal sebagai penonton… tentang sebuah anime tahun 2016, genre slice of life, school, romance, yang kelihatannya klise, tapi entah kenapa bisa nyantol di dada. Namanya ReLIFE.
Dan ini penting… karena ReLIFE tuh kayak ngasih cermin ke kita yang udah keburu kebakar tuntutan hidup. Soal kerja, soal masyarakat, soal tekanan yang kadang bikin orang ngerasa sendirian banget.
Aku nemu ReLIFE di momen aku lagi menjauh dari anime. Yang aku tunggu tiap minggu cuma shonen panjang, action terus… One Piece, Dragon Ball, Boruto, ditambah sekuel-sekuel yang itu lagi itu lagi. Lama-lama aku kangen satu hal yang sederhana… drama sekolah yang hangat, yang nggak kebanyakan fan service aneh-aneh. Terus ReLIFE datang, kayak orang yang nyolek pelan, “eh… antum masih inget rasanya jadi anak SMA?”
ReLIFE asalnya dari komik web karya So Yayoi, rilis dari 2013 sampai 2018. Animenya mulai tayang Juli 2016 sampai September 2016. Waktu aku sadar ini anime bagus… aku malah ngerasa nyesel, “kok dulu aku lewatin ya?” Ceritanya fokus ke Arata Kaizaki, umur sekitar akhir 20-an, pengangguran, hidupnya kayak gagal start. Dunia kerja yang harusnya jadi pintu masa depan malah jadi tempat yang bikin trauma. Ada luka dari pengalaman kerja pertama, ada rasa takut, ada rasa malu… sampai di titik wawancara kerja pun jadi jebakan pertanyaan yang bikin sesak. Sampai suatu malam, muncul tawaran yang terdengar gila… eksperimen bernama ReLIFE. Kaizaki dikasih pil yang bikin tubuhnya balik jadi 17 tahun, dan dia harus menjalani kehidupan SMA lagi. Tubuh remaja… tapi isi kepala orang dewasa. Konsepnya klasik, iya. Kayak 17 Again atau Sweet 20 versi “lebih pahit”. Tapi di sinilah aku ngerasa eksekusinya niat. Art-nya sederhana, nggak lebay, tapi tetap enak dipandang. Dan pesannya juga simpel… tapi ngena. Di sekolah, kita ketemu pola yang sebenarnya familiar: anak pinter tapi kikuk sosial, anak atlet yang jeblok akademis, si ambisius yang pengen jadi terbaik, yang populer… tapi ReLIFE ngebawain mereka dengan lebih natural. Nggak banyak karakter “sok cool”, nggak kebanyakan badut absurd, nggak ada tipe yang dibuat lebay cuma buat jadi gimmick. Rasanya kayak liat interaksi manusia beneran… dengan dramatisasi yang masih wajar.
Masalahnya, balik ke SMA itu ternyata bukan liburan nostalgia. Kaizaki harus ngejar ujian standar yang bikin dia keteteran. Dia kepergok bawa rokok, karena refleks orang dewasa kebawa ke tubuh anak sekolah. Dia harus belajar lagi cara “jadi remaja”, tapi tanpa jadi bego. Dan itu rumit… karena dia punya pengalaman pahit yang bikin dia mikir terlalu jauh untuk ukuran anak SMA. Di tengah itu semua, ada Chizuru Hishiro, cewek super pinter, tapi komunikasi sosialnya kaku banget. Dan di situlah chemistry yang unik muncul. Romansanya nggak meledak-ledak. Justru manisnya ada di hening. Di obrolan yang pendek. Di momen kecil yang terasa jujur. Dan yang aku suka… ReLIFE nggak cuma jualan cinta-cintaan. Dia nyambungin kehidupan sekolah dengan kehidupan masyarakat Jepang modern: tekanan kerja, tuntutan sosial, cara orang “dipaksa kuat”, sampai kadang lupa cara minta tolong. Tapi jujur ya… ada dilema juga. Karena di 13 episode itu, porsi konflik sekolah kadang terasa kurang puas, seolah kebagi sama misteri perusahaan ReLIFE yang pelan-pelan mengintip dari belakang. Dan musiknya… aku ngerti niatnya, tapi ada beberapa scoring piano yang rasanya malah bikin emosi nggak keangkat maksimal. Terus… seperti banyak anime romance lain… ending-nya gantung. Open ending. Yang bikin penonton cuma bisa bengong sambil ngomel, “serius nih segini doang?” Dan di titik itu, aku kebayang… kalau aku nonton pas 2016, mungkin aku udah gila nunggu kelanjutannya.
Dua tahun kemudian, akhirnya ada kelanjutan… tapi bukan season 2. Keluar dalam bentuk OVA 4 episode. Dan di sinilah rasa campur aduk itu muncul. Di satu sisi, aku pengen lebih. Pengen napas ceritanya lebih panjang. Tapi di sisi lain… OVA ini tuh kayak “air buat orang kehausan”. Nggak ideal, tapi cukup buat nyelametin perasaan. Fokusnya juga bergeser. Kalau seri utamanya lebih kental slice of life dan soal adaptasi, OVA ini lebih nancep ke romansa Kaizaki dan Hishiro. Dan buat aku… itu keputusan yang tepat, karena memang hubungan mereka yang paling bikin penasaran. Ada momen yang aku suka banget… saat cerita menyentuh bagian tentang Oya dan kakaknya, dan efeknya ke Kaizaki dan Hishiro. Obrolannya sebentar, tapi penting. Kayak nunjukin perkembangan karakter mereka, sekaligus ngasih pesan tentang cara bersikap ketika hidup ngulang pola yang sama di orang lain. Tapi ya itu… 4 episode bikin ritmenya jadi dilematis. Beberapa hal terasa “lompat-lompat”. Pergerakan hubungan mereka keburu cepat. Antum sebagai penonton kayak nggak dikasih waktu buat menikmati rasa sedihnya, bahagianya, gemesnya. Semua langsung ke intinya. Yang paling kerasa janggal… proses Hishiro menyimpulkan perasaannya. Ada adegan manis, kayak gandeng tangan di festival, dan itu harusnya momen yang bikin baper setengah mati… tapi karena set up-nya singkat, jadinya sedikit aneh. Hishiro terlihat lebih berani dari karakter yang kita kenal… dan kalau ini dibangun pelan-pelan, dampaknya pasti lebih nusuk. Tapi aku juga paham. Ini harga dari durasi yang dipersempit. Walaupun begitu… secara keseluruhan, OVA ini jadi penutup yang kuat. Bukan lagi open ending. Ada kepastian arah hubungan mereka. Ada kesimpulan untuk karakter, dan pesan besarnya tetap kebawa: masa SMA itu berharga bukan karena seragamnya, tapi karena di sana kita belajar jadi manusia… sebelum dunia dewasa ngajarin kita bertahan hidup dengan cara yang lebih kasar. ReLIFE bikin aku mikir… kalau suatu hari ada tawaran balik ke masa sekolah, dengan taruhannya apa pun, aku mungkin bakal pengen banget. Bukan cuma buat memperbaiki nilai atau jadi populer… tapi buat ngulang kesempatan kecil yang dulu aku sepelekan. Memperbaiki yang kelewat. Minta maaf yang nggak sempet. Ngerawat pertemanan. Hidup lebih sehat. Karena banyak orang dewasa hancur bukan karena kurang pintar… tapi karena dulu keburu nyerah sama masa mudanya sendiri.
Dan ya… tetap ada yang nggak berubah dari aku. Aku masih nggak cocok sama beberapa scoring musiknya. Itu aja sih yang bikin aku “ngedumel kecil”. Jadi sekarang gini… antum nggak perlu pil ReLIFE buat ngerasain kesempatan kedua. Tapi antum perlu satu hal yang lebih berat… jujur sama diri sendiri soal penyesalan apa yang belum beres. Kalau antum suka cerita yang bikin dada hangat tapi juga nyubit realita, ReLIFE layak banget ditonton sampai OVA-nya. Kalau antum pengen, share episode ini ke temen antum yang lagi capek sama kerja, atau yang lagi ngerasa hidupnya “telat start”… siapa tahu dia cuma butuh satu cerita buat merasa ditemenin. Dan kalau antum mau, follow juga… biar kita bisa ngobrol lagi di cerita berikutnya. Menurut antum, orang dewasa yang bilang “masa SMA itu cuma nostalgia receh” itu beneran bijak… atau sebenarnya lagi denial karena mereka kangen masa ketika hidup belum sekejam sekarang?
ReLIFE asalnya dari komik web karya So Yayoi, rilis dari 2013 sampai 2018. Animenya mulai tayang Juli 2016 sampai September 2016. Waktu aku sadar ini anime bagus… aku malah ngerasa nyesel, “kok dulu aku lewatin ya?” Ceritanya fokus ke Arata Kaizaki, umur sekitar akhir 20-an, pengangguran, hidupnya kayak gagal start. Dunia kerja yang harusnya jadi pintu masa depan malah jadi tempat yang bikin trauma. Ada luka dari pengalaman kerja pertama, ada rasa takut, ada rasa malu… sampai di titik wawancara kerja pun jadi jebakan pertanyaan yang bikin sesak. Sampai suatu malam, muncul tawaran yang terdengar gila… eksperimen bernama ReLIFE. Kaizaki dikasih pil yang bikin tubuhnya balik jadi 17 tahun, dan dia harus menjalani kehidupan SMA lagi. Tubuh remaja… tapi isi kepala orang dewasa. Konsepnya klasik, iya. Kayak 17 Again atau Sweet 20 versi “lebih pahit”. Tapi di sinilah aku ngerasa eksekusinya niat. Art-nya sederhana, nggak lebay, tapi tetap enak dipandang. Dan pesannya juga simpel… tapi ngena. Di sekolah, kita ketemu pola yang sebenarnya familiar: anak pinter tapi kikuk sosial, anak atlet yang jeblok akademis, si ambisius yang pengen jadi terbaik, yang populer… tapi ReLIFE ngebawain mereka dengan lebih natural. Nggak banyak karakter “sok cool”, nggak kebanyakan badut absurd, nggak ada tipe yang dibuat lebay cuma buat jadi gimmick. Rasanya kayak liat interaksi manusia beneran… dengan dramatisasi yang masih wajar.
Masalahnya, balik ke SMA itu ternyata bukan liburan nostalgia. Kaizaki harus ngejar ujian standar yang bikin dia keteteran. Dia kepergok bawa rokok, karena refleks orang dewasa kebawa ke tubuh anak sekolah. Dia harus belajar lagi cara “jadi remaja”, tapi tanpa jadi bego. Dan itu rumit… karena dia punya pengalaman pahit yang bikin dia mikir terlalu jauh untuk ukuran anak SMA. Di tengah itu semua, ada Chizuru Hishiro, cewek super pinter, tapi komunikasi sosialnya kaku banget. Dan di situlah chemistry yang unik muncul. Romansanya nggak meledak-ledak. Justru manisnya ada di hening. Di obrolan yang pendek. Di momen kecil yang terasa jujur. Dan yang aku suka… ReLIFE nggak cuma jualan cinta-cintaan. Dia nyambungin kehidupan sekolah dengan kehidupan masyarakat Jepang modern: tekanan kerja, tuntutan sosial, cara orang “dipaksa kuat”, sampai kadang lupa cara minta tolong. Tapi jujur ya… ada dilema juga. Karena di 13 episode itu, porsi konflik sekolah kadang terasa kurang puas, seolah kebagi sama misteri perusahaan ReLIFE yang pelan-pelan mengintip dari belakang. Dan musiknya… aku ngerti niatnya, tapi ada beberapa scoring piano yang rasanya malah bikin emosi nggak keangkat maksimal. Terus… seperti banyak anime romance lain… ending-nya gantung. Open ending. Yang bikin penonton cuma bisa bengong sambil ngomel, “serius nih segini doang?” Dan di titik itu, aku kebayang… kalau aku nonton pas 2016, mungkin aku udah gila nunggu kelanjutannya.
Dua tahun kemudian, akhirnya ada kelanjutan… tapi bukan season 2. Keluar dalam bentuk OVA 4 episode. Dan di sinilah rasa campur aduk itu muncul. Di satu sisi, aku pengen lebih. Pengen napas ceritanya lebih panjang. Tapi di sisi lain… OVA ini tuh kayak “air buat orang kehausan”. Nggak ideal, tapi cukup buat nyelametin perasaan. Fokusnya juga bergeser. Kalau seri utamanya lebih kental slice of life dan soal adaptasi, OVA ini lebih nancep ke romansa Kaizaki dan Hishiro. Dan buat aku… itu keputusan yang tepat, karena memang hubungan mereka yang paling bikin penasaran. Ada momen yang aku suka banget… saat cerita menyentuh bagian tentang Oya dan kakaknya, dan efeknya ke Kaizaki dan Hishiro. Obrolannya sebentar, tapi penting. Kayak nunjukin perkembangan karakter mereka, sekaligus ngasih pesan tentang cara bersikap ketika hidup ngulang pola yang sama di orang lain. Tapi ya itu… 4 episode bikin ritmenya jadi dilematis. Beberapa hal terasa “lompat-lompat”. Pergerakan hubungan mereka keburu cepat. Antum sebagai penonton kayak nggak dikasih waktu buat menikmati rasa sedihnya, bahagianya, gemesnya. Semua langsung ke intinya. Yang paling kerasa janggal… proses Hishiro menyimpulkan perasaannya. Ada adegan manis, kayak gandeng tangan di festival, dan itu harusnya momen yang bikin baper setengah mati… tapi karena set up-nya singkat, jadinya sedikit aneh. Hishiro terlihat lebih berani dari karakter yang kita kenal… dan kalau ini dibangun pelan-pelan, dampaknya pasti lebih nusuk. Tapi aku juga paham. Ini harga dari durasi yang dipersempit. Walaupun begitu… secara keseluruhan, OVA ini jadi penutup yang kuat. Bukan lagi open ending. Ada kepastian arah hubungan mereka. Ada kesimpulan untuk karakter, dan pesan besarnya tetap kebawa: masa SMA itu berharga bukan karena seragamnya, tapi karena di sana kita belajar jadi manusia… sebelum dunia dewasa ngajarin kita bertahan hidup dengan cara yang lebih kasar. ReLIFE bikin aku mikir… kalau suatu hari ada tawaran balik ke masa sekolah, dengan taruhannya apa pun, aku mungkin bakal pengen banget. Bukan cuma buat memperbaiki nilai atau jadi populer… tapi buat ngulang kesempatan kecil yang dulu aku sepelekan. Memperbaiki yang kelewat. Minta maaf yang nggak sempet. Ngerawat pertemanan. Hidup lebih sehat. Karena banyak orang dewasa hancur bukan karena kurang pintar… tapi karena dulu keburu nyerah sama masa mudanya sendiri.
Dan ya… tetap ada yang nggak berubah dari aku. Aku masih nggak cocok sama beberapa scoring musiknya. Itu aja sih yang bikin aku “ngedumel kecil”. Jadi sekarang gini… antum nggak perlu pil ReLIFE buat ngerasain kesempatan kedua. Tapi antum perlu satu hal yang lebih berat… jujur sama diri sendiri soal penyesalan apa yang belum beres. Kalau antum suka cerita yang bikin dada hangat tapi juga nyubit realita, ReLIFE layak banget ditonton sampai OVA-nya. Kalau antum pengen, share episode ini ke temen antum yang lagi capek sama kerja, atau yang lagi ngerasa hidupnya “telat start”… siapa tahu dia cuma butuh satu cerita buat merasa ditemenin. Dan kalau antum mau, follow juga… biar kita bisa ngobrol lagi di cerita berikutnya. Menurut antum, orang dewasa yang bilang “masa SMA itu cuma nostalgia receh” itu beneran bijak… atau sebenarnya lagi denial karena mereka kangen masa ketika hidup belum sekejam sekarang?
