𝕁ℕℝ𝔾𝕐𝕋

JNRGYT

Milenial Memendam, Gen Z Mengeksekusi: Drama Baru di Kantor Modern

Desember 25, 2020
menit
Cerita tentang benturan Gen Z, milenial, dan budaya kerja lama. Saat ancaman potong gaji tidak lagi menakutkan, siapa sebenarnya yang perlu berubah? Gen Z, Milenial, dan Aturan Kantor yang Mulai Kehilangan Taringnya

Bayangkan begini… Antum datang telat beberapa menit ke kantor. Belum sempat duduk, belum sempat membuka laptop, belum sempat menarik napas panjang setelah menembus macet pagi, tiba-tiba ada suara dari meja atasan.
“Kalau telat, gajinya dipotong setengah hari, ya.” Dulu, mungkin kalimat itu cukup untuk membuat orang menunduk. Minta maaf. Lalu bekerja dengan rasa bersalah seharian penuh.
Tapi sekarang? Ada yang justru berpikir, “Kalau gajiku dipotong setengah hari, berarti aku kerja setengah hari saja, kan?” Dan di titik itulah, sesuatu berubah.
Bukan cuma soal telat. Bukan cuma soal absen. Bukan cuma soal Gen Z yang katanya berani, ngeyel, atau susah diatur.
Ini tentang satu pertanyaan yang selama ini jarang diucapkan keras-keras di kantor: Kalau aturan dibuat tidak masuk akal, apakah karyawan masih wajib patuh tanpa bertanya?

Cerita ini bermula dari obrolan sederhana di media sosial. Sebuah percakapan tentang karyawan muda, aturan kantor, potong gaji, dan cara generasi baru merespons ancaman dari atasan.
Di permukaan, kelihatannya lucu. Banyak yang tertawa. Banyak yang merasa, “Wah, ini aku banget.” Ada juga yang langsung menyebut, “Inilah energi Gen Z.” Tapi kalau kita dengarkan lebih pelan… ada sesuatu yang lebih dalam di balik tawa itu.
Ada rasa lelah. Ada sindiran. Ada keberanian yang muncul setelah terlalu lama melihat aturan kerja yang berat sebelah. Ada juga kegelisahan dari generasi sebelumnya, terutama milenial, yang dulu mungkin ingin melawan, tapi memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan.
Lalu datanglah Gen Z.
Generasi yang tidak selalu takut pada ancaman. Tidak selalu silau pada jabatan. Tidak selalu tunduk hanya karena seseorang lebih senior.
Bagi sebagian orang, ini menyegarkan.
Bagi sebagian lain, ini mengkhawatirkan.
Dan mungkin, di sinilah cerita menariknya dimulai.

Pagi hari di sebuah kantor.
Jam kerja tertulis mulai pukul delapan. Tapi seperti biasa, hidup tidak selalu berjalan sesuai jadwal. Jalanan macet. Hujan turun. Transportasi terlambat. Kadang tubuh juga belum sepenuhnya pulih dari lembur kemarin.
Lalu seseorang datang pukul delapan lewat beberapa menit.
Di kantor model lama, keterlambatan kecil sering diperlakukan seperti dosa besar. Ada tatapan sinis. Ada teguran. Ada ancaman. Kadang ada potong gaji. Kadang ada SP. Kadang ada kalimat yang terdengar halus, tapi terasa seperti tekanan.
“Kamu harus paham, kontrakmu tergantung penilaianku.” Untuk sebagian karyawan, kalimat seperti itu mungkin membuat dada berdebar. Tapi bagi sebagian lainnya, terutama yang sudah lelah dengan aturan tidak proporsional, kalimat itu justru memantik sesuatu.
Bukan takut.
Bukan panik.
Tapi perlawanan kecil di dalam kepala.
“Kalau memang mau dipotong, ya sudah potong saja.” “Kalau sudah dipotong sehari, kenapa aku harus tetap kerja seharian?” “Kalau perusahaan hitung-hitungan, kenapa karyawan tidak boleh hitung-hitungan juga?” Di sinilah kita melihat benturan dua dunia.
Dunia lama percaya bahwa disiplin dibangun dengan hukuman. Datang telat, potong gaji. Salah sedikit, ancam SP. Tidak menurut, singgung soal kontrak.
Sementara dunia baru mulai bertanya, “Apakah disiplin harus selalu dibangun dari rasa takut?” Dan pertanyaan itu tidak datang sendirian.
Ia datang bersama generasi yang tumbuh dengan akses informasi lebih luas, keberanian berbicara lebih besar, dan cara pandang kerja yang lebih transaksional. Mereka tidak selalu menganggap pekerjaan sebagai satu-satunya sumber harga diri. Mereka bisa bekerja untuk uang, pengalaman, jaringan, atau sekadar batu loncatan.
Maka ketika ancaman lama dilemparkan, responsnya tidak selalu seperti yang diharapkan.
Kadang mereka tidak gemetar.
Kadang mereka malah pulang.

Yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana banyak milenial ikut tertawa, tapi bukan karena mereka tidak paham masalahnya.
Justru sebaliknya.
Mereka terlalu paham.
Banyak milenial tumbuh di lingkungan kerja yang mengajarkan satu hal: tahan dulu. Jangan banyak protes. Jangan melawan senior. Jangan cari masalah. Kalau aturan tidak adil, telan saja. Kalau atasan semena-mena, sabar saja. Kalau gaji kecil tapi beban kerja besar, anggap saja proses.
Milenial sering menjadi generasi yang menyimpan banyak unek-unek. Mereka tahu mana aturan yang tidak masuk akal. Mereka tahu kapan perusahaan bersikap tidak adil. Mereka tahu rasanya pulang larut tanpa apresiasi, tapi telat lima menit langsung dipersoalkan.
Namun banyak dari mereka memilih diam.
Bukan karena setuju.
Bukan karena tidak punya pendapat.
Tapi karena dulu, rasa takut lebih besar daripada keberanian.
Takut tidak diperpanjang kontrak.
Takut dicap pembangkang.
Takut dianggap tidak profesional.
Takut kehilangan pemasukan.
Lalu Gen Z masuk ke ruang kerja yang sama, menghadapi aturan yang sama, mendengar ancaman yang sama, tapi memberikan respons yang berbeda.
Dan bagi sebagian milenial, itu seperti melihat versi diri mereka yang dulu tidak pernah berani muncul.
Mereka seperti berkata, “Akhirnya ada yang ngomong.” “Akhirnya ada yang melawan.” “Akhirnya ada yang mengeksekusi apa yang selama ini cuma kami pendam.” Di komentar-komentar itu, Gen Z digambarkan sebagai eksekutor. Milenial pemberi ide, Gen Z yang menjalankan. Milenial mengeluh dalam hati, Gen Z mengucapkannya di depan orangnya langsung.
Lucu? Iya.
Tapi juga agak menyedihkan.
Karena kalau sebuah generasi merasa terwakili oleh keberanian generasi lain untuk melawan aturan kantor, mungkin masalahnya bukan sekadar “anak muda sekarang susah diatur.” Mungkin masalahnya adalah terlalu lama banyak orang bekerja dalam sistem yang membuat mereka takut bicara.
Namun tentu saja, tidak semua orang setuju.
Ada juga suara kontra yang muncul.
Sebagian melihat sikap ini sebagai bentuk ketidakdewasaan. Kalau telat lalu dipotong gaji, bukan berarti karyawan boleh seenaknya datang lebih siang. Kalau ditegur lalu pulang, bukan berarti itu keberanian. Bisa jadi itu justru tanda rendahnya profesionalisme.
Dalam sudut pandang ini, kantor tetap butuh aturan. Tim butuh kepastian. Operasional butuh disiplin. Tidak semua hal bisa dibalas dengan logika “kalau aku dirugikan, aku akan balas merugikan.” Karena di dunia kerja, tindakan satu orang tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri. Ada rekan kerja yang mungkin harus menanggung pekerjaan tambahan. Ada pelanggan yang menunggu. Ada target tim yang terganggu.
Di sinilah konfliknya menjadi lebih rumit.
Di satu sisi, aturan yang tidak adil memang perlu dilawan.
Di sisi lain, perlawanan yang asal-asalan juga bisa menciptakan masalah baru.
Dan di tengah dua kutub itu, kita melihat satu hal yang sangat jelas: Budaya kerja lama sedang diuji.

Puncaknya bukan ketika seorang karyawan telat.
Puncaknya bukan ketika gaji dipotong.
Puncaknya adalah saat ancaman yang dulu dianggap sakral tiba-tiba kehilangan kekuatannya.
“Kalau begitu, pulang saja.” Kalimat sederhana. Tapi efeknya besar.
Karena selama ini, banyak perusahaan mengira karyawan akan selalu takut. Takut kehilangan gaji. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan status. Takut dianggap tidak loyal.
Namun Gen Z datang dengan cara berpikir yang berbeda.
Mereka tidak selalu melihat pekerjaan sebagai tempat yang harus dipertahankan mati-matian, apalagi jika tempat itu membuat mereka merasa tidak dihargai. Mereka bisa mencari peluang lain. Mereka bisa punya pekerjaan sampingan. Mereka bisa belajar dari internet. Mereka bisa membangun identitas di luar kantor.
Itulah kenapa ancaman lama tidak selalu bekerja.
Saat atasan berkata, “Nanti gajimu dipotong,” sebagian dari mereka menjawab dalam hati, “Silakan.” Saat atasan berkata, “Kontrakmu tergantung penilaianku,” sebagian dari mereka berpikir, “Kalau memang tidak cocok, ya sudah.” Saat diminta lembur tanpa empati, sebagian dari mereka bertanya, “Dibayar atau tidak?” Dan pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak orang tidak nyaman.
Karena selama ini, budaya kerja kita sering mengandalkan rasa sungkan. Karyawan harus sungkan pulang tepat waktu. Sungkan menolak pekerjaan tambahan. Sungkan bertanya soal hak. Sungkan menagih keadilan.
Gen Z tidak selalu punya rasa sungkan yang sama.
Bagi sebagian orang, itu kurang ajar.
Bagi sebagian lain, itu sehat.
Dan mungkin kebenarannya ada di tengah.
Gen Z bukan malaikat pembebas dunia kerja. Mereka juga bisa salah. Mereka juga bisa impulsif. Mereka juga bisa terlalu cepat menyimpulkan. Tidak semua pembangkangan adalah keberanian. Tidak semua perlawanan adalah kebenaran.
Tapi perusahaan juga tidak bisa terus bersembunyi di balik kata “aturan” kalau aturan itu tidak proporsional.
Karena aturan yang buruk tidak otomatis menjadi benar hanya karena tertulis di peraturan perusahaan.
Kalau telat beberapa menit dihukum seperti absen setengah hari, jangan heran kalau karyawan mulai berhitung. Kalau lembur dianggap loyalitas tapi telat dianggap pelanggaran, jangan heran kalau karyawan merasa hubungan kerja itu timpang.
Dan ketika karyawan mulai berhitung, perusahaan tidak bisa lagi hanya menjawab dengan ancaman.
Mereka harus menjawab dengan keadilan.

Setelah semua tawa, sindiran, dan komentar pedas itu, ada satu pelajaran besar yang bisa kita ambil.
Masalah ini bukan hanya tentang Gen Z. Bukan hanya tentang milenial. Bukan hanya tentang atasan galak, HR kaku, atau karyawan yang malas.
Ini tentang cara kita memahami kerja.
Dulu, kerja sering dipandang sebagai hubungan satu arah. Perusahaan memberi gaji, maka karyawan harus patuh. Atasan memberi perintah, bawahan menjalankan. Peraturan dibuat dari atas, karyawan tinggal mengikuti.
Tapi sekarang, pola itu mulai retak.
Karyawan mulai bertanya soal hak. Mulai membandingkan beban kerja dengan kompensasi. Mulai memikirkan kesehatan mental. Mulai menolak diperlakukan seperti mesin yang harus selalu siap, selalu tunduk, selalu diam.
Apakah itu buruk? Tidak selalu.
Justru bisa menjadi tanda bahwa dunia kerja sedang bergerak menuju hubungan yang lebih jujur.
Namun di sisi lain, karyawan juga perlu memahami bahwa keberanian tetap butuh arah. Melawan aturan yang tidak adil itu penting, tapi cara melawannya juga menentukan hasil. Ada beda besar antara menyuarakan keberatan dengan elegan dan sekadar membalas aturan buruk dengan tindakan yang merugikan diri sendiri.
Kalau aturan potong gaji terasa tidak masuk akal, bicarakan. Minta kejelasan. Tanyakan dasar kebijakannya. Dorong sistem yang lebih proporsional. Usulkan reward untuk kehadiran baik, bukan hanya hukuman untuk keterlambatan.
Dan untuk perusahaan, ini juga saatnya bercermin.
Kalau karyawan tidak takut lagi dengan ancaman, jangan buru-buru menyebut mereka tidak tahu diri. Bisa jadi ancaman itu memang sudah terlalu sering dipakai sampai kehilangan makna. Bisa jadi karyawan bukan tidak disiplin, tapi lelah dengan sistem yang hanya tegas ke bawah dan lunak ke atas.
Disiplin tetap penting. Tapi disiplin yang sehat tidak lahir dari ketakutan semata. Ia lahir dari rasa adil, rasa dihargai, dan aturan yang masuk akal.
Karena pada akhirnya, karyawan yang merasa dihormati biasanya tidak perlu terus-menerus diancam untuk bekerja dengan baik.

Jadi, kalau suatu hari antum melihat karyawan muda menjawab aturan kantor dengan logika yang terlalu polos, terlalu berani, atau bahkan terlalu menantang, mungkin jangan langsung menyebut mereka rusak.
Dengarkan dulu.
Bisa jadi mereka sedang mengatakan sesuatu yang dulu tidak berani kita ucapkan.
Bisa jadi mereka bukan sedang menghancurkan budaya kerja.
Bisa jadi mereka sedang memaksa budaya kerja lama untuk berevolusi.
Tapi ini juga pertanyaan yang tidak kalah penting: Kalau semua aturan kantor harus dilawan karena dianggap tidak masuk akal, apakah kita sedang memperjuangkan keadilan… atau cuma mencari pembenaran untuk tidak disiplin? Nah, itu bagian yang layak diperdebatkan.
Kalau antum pernah mengalami aturan kantor yang terasa tidak adil, atau pernah melihat Gen Z dan milenial bentrok soal cara kerja, bagikan cerita ini. Siapa tahu, dari satu cerita kecil, ada banyak orang yang akhirnya berani membicarakan hal yang selama ini cuma mereka pendam.
Karena dunia kerja tidak akan berubah hanya karena kita mengeluh diam-diam.
Kadang, ia berubah karena ada yang cukup berani untuk bertanya: “Memang aturannya masuk akal?”