𝕁ℕℝ𝔾𝕐𝕋

JNRGYT

Antara Tradisi, Medis & Rasa Sakit yang Bikin Nagih, Tentang Kerokan.

Mei 10, 2021
menit

Mitos Angin Duduk dan Misteri Punggung Merah: Mengapa Kita Kecanduan Rasa Sakit Saat Dikerok?
Pernah nggak antum merasa... tubuh antum itu membohongi diri sendiri?

Coba ingat-ingat lagi... kapan terakhir kali antum merasa lemas, pusing, dunia serasa berputar, lalu tiba-tiba ada satu benda logam kecil yang seolah jadi jurus penyelamat hidup antum.

Ya... kita sedang membicarakan kerokan.

Sebuah kebiasaan ajaib... yang entah sejak kapan mendarah daging di budaya kita. Cerita ini bukan sekadar soal mitos masuk angin. Ini soal rasa sakit... sugesti... dan benturan keras antara logika medis modern dengan kearifan lokal yang sulit banget dibantah.

Aku punya cerita... dan mungkin, cerita ini adalah cerita antum juga.

Dulu... jauh sebelum aku menikah, yang namanya kerokan itu adalah musuh terbesarku. Buatku, tubuh yang digesek paksa pakai koin sampai merah menyala itu bukan pengobatan. Itu siksaan.

Kalau pun terpaksa dikerok, baru beberapa gesekan saja rasanya sudah luar biasa sakit. Kulit serasa mau robek. Aku selalu berpikir... kenapa sih orang-orang suka banget menyiksa diri sendiri?

Tapi semua berubah di usia tiga puluhan. Setelah menikah... aku baru menyadari satu kenyataan unik. Istriku ternyata penggemar berat kerokan.

Kalau dia merasa lelah atau pusing, punggung dan tangannya harus dikerok sampai merah pekat. Merah yang kalau difoto... astaga, menakutkan sekali. Kayak tulang-tulangnya kelihatan semua.

Alasannya selalu sama. Masuk angin. Biar badannya kembali segar.

Aku sering protes. Kenapa sih angin melulu yang disalahkan? Memangnya angin punya salah apa sampai selalu jadi kambing hitam dari segala rasa lemas dan puyeng kita?

Sampai di satu malam... aku sedang merasa sangat loyo. Badan tidak karuan, energi rasanya habis tersedot. Dan seperti biasa, istriku dengan sigap membawa koin saktinya. Katanya kepadaku, kamu masuk angin tuh kayaknya, udah sini cobain dulu aja.

Aku ragu. Sangat ragu. Tapi karena badan sudah tidak mau kompromi... ya sudah, aku pasrah.

Dan malam itu... untuk pertama kalinya aku dikerok sampai merah.

Rasanya? Jangan ditanya. Sakitnya bukan main. Aku menahan perih yang menjalar di punggung, rasanya kulitku semakin tipis dan kebal di saat yang bersamaan. Aku benar-benar tidak kuat... sudah ditahan-tahan sampai air mata rasanya mau keluar.

Tapi keajaiban aneh itu pun terjadi. Setelah sesi penyiksaan itu selesai... entah kenapa, badanku tiba-tiba terasa ringan.

Lemasnya hilang. Pusingnya mereda. Istriku tersenyum puas sambil menunjuk punggungku dan bilang kalau anginnya sudah keluar karena punggungku merah banget.

Namun otak logisku langsung berontak. Sebentar... apakah benar ada angin yang keluar?

Atau jangan-jangan... rasa ringan ini cuma ilusi? Sebuah trik dari tubuh kita sendiri, di mana rasa sakit akibat kerokan justru memicu otak melepaskan hormon endorfin untuk menutupi rasa lemas yang sebenarnya?

Aku mulai mencari tahu karena ketakutanku bukan cuma soal sakit. Aku pernah mendengar cerita mengerikan soal orang yang kena angin duduk setelah dikerok... lalu tiba-tiba meninggal dunia. Jujur, mitos itu lumayan menghantuiku.

Dan ternyata... dunia sains dan medis punya jawabannya sendiri.

Tidak ada istilah angin keluar dalam kamus kedokteran. Merah di kulit kita itu namanya petechiae, yaitu pecahnya pembuluh darah kapiler kecil di bawah kulit karena gesekan paksa. Semakin keras digesek... semakin merah kelihatannya.

Lalu soal angin duduk? Medis menyebutnya Angina Pektoris, alias serangan jantung. Orang meninggal bukan karena dikerok... tapi karena dia sedang kena serangan jantung, lalu mengira itu cuma masuk angin biasa, minta dikerok, dan akhirnya telat dibawa ke rumah sakit.

Fakta ini cukup menampar. Secara medis, dokter memang menyarankan jangan kerokan. Lebih baik selimutan, istirahat, atau minum obat. Tapi di sisi lain... tubuh kita sudah terlanjur nyaman dengan efek pelebaran pembuluh darah dari rasa sakit ini.

Bahkan kalau kita tarik sedikit ke sudut pandang agama, Islam sebenarnya tidak kaku menolak metode ini selama memang membawa manfaat dan kesembuhan. Konsepnya sangat mirip dengan bekam yang melancarkan peredaran darah.

Hanya saja, ada batasan sabda Nabi yang sangat jelas: 'Laa dharara wa laa dhiraar'. Tidak boleh melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri, dan tidak boleh membahayakan orang lain.

Artinya, kerokan itu boleh-boleh saja... selama tidak dilakukan brutal sampai menyiksa diri, merusak kulit, atau menimbulkan infeksi yang membahayakan.

Sekarang... jujur saja, aku pelan-pelan jadi terbiasa dikerok. Tentu, tidak sesadis istriku yang sampai merah pekat menakutkan itu.

Aku menyadari bahwa kadang kita memang butuh titik seimbang. Keseimbangan antara mendengarkan logika sains yang kaku... dan merangkul kehangatan sugesti dari orang yang merawat kita.

Sakit di luar, ternyata sukses mengobati lemas di dalam. Entah itu sekadar manipulasi hormon, sugesti placebo, atau tradisi semata... selama tubuh terasa enak dan batas amannya terjaga, ya sudahlah, gas saja.

Nah, sekarang aku mau tanya ke antum semua. Coba jujur... apakah antum tim logis yang menolak keras kerokan karena itu cuma merusak pembuluh darah... atau antum diam-diam memang menikmati rasa sakit koin seribuan itu demi sebuah kata segar?

Coba renungkan... jangan-jangan selama ini, kita semua memang diam-diam kecanduan disakiti hanya untuk merasa lebih baik?

Tinggalkan pendapat antum dan jangan lupa kirim cerita ini ke pasangan atau teman antum yang hobinya nyalahin angin setiap kali badannya meriang. Mari kita lihat... apakah mereka berani mengakui fakta ini.