JNRGYT

Masa depan kendaraan berbasis listrik tentang Transportasi berkelanjutan

Mei 15, 2024
menit
Kendaraan listrik (EV) sedang dipromosikan sebagai jawaban paling masuk akal atas krisis emisi, polusi udara, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, banyak negara menargetkan penghapusan kendaraan bensin secara bertahap. Pertanyaannya bukan lagi apakah EV akan mengambil alih, tetapi bagaimana transisi ini akan membentuk ulang cara kita hidup. Masalahnya, kita sering membahas EV seolah hanya soal mengganti mesin bensin dengan motor listrik. Itu terlalu sempit. EV adalah perubahan sistem, dan karena itu dampaknya akan terasa pada energi, kota, ekonomi, sampai politik industri.

Mari mulai dari hal yang paling sering dijadikan bahan kampanye, yakni baterai. Ini memang jantung EV. Namun di sini pula letak pertarungan sesungguhnya. Selama ini, skeptisisme publik berpusat pada dua hal: jarak tempuh dan waktu pengisian. Dua kekhawatiran ini bukan salah masyarakat. Produk generasi awal memang belum mendekati kenyamanan mobil bensin. Tetapi laju kemajuan teknologi baterai membuat argumen “EV tidak praktis” makin cepat basi. Ketika baterai semakin padat energi, jarak tempuh akan naik. Ketika arsitektur pengisian dan manajemen panas makin matang, pengisian cepat akan terasa semakin normal. Pada titik tertentu, argumen praktikalitas akan runtuh. Dan ketika itu terjadi, penolakan terhadap EV tidak lagi bisa berlindung di alasan teknis, melainkan akan terbuka sebagai resistensi kebiasaan dan kepentingan.

Namun ada isu yang lebih menentukan daripada jarak tempuh, yaitu sumber listriknya. EV sering dituduh hanya memindahkan polusi dari knalpot ke pembangkit listrik. Tuduhan ini ada benarnya jika listrik masih dominan dari batu bara. Tetapi logika besar transisi energi menunjukkan hal sebaliknya. EV justru menjadi pendorong agar jaringan listrik makin bersih, karena permintaan listrik akan meningkat dan publik akan menuntut listrik yang lebih hijau. Ketika porsi energi terbarukan naik, manfaat EV membesar secara eksponensial. Bukan lagi sekadar kendaraan tanpa emisi di jalan, tetapi kendaraan yang benar benar terintegrasi dengan sistem energi bersih.

Di sinilah EV mulai menjadi ide yang “berbahaya” bagi status quo. Bayangkan rumah dengan panel surya, pengisian daya di malam hari, dan baterai mobil yang tidak hanya dipakai untuk mobilitas tapi juga bisa mendukung kebutuhan listrik rumah. Dalam skenario lebih maju, mobil bahkan bisa membantu menstabilkan jaringan melalui konsep vehicle to grid. Ini bukan fantasi. Ini arah perkembangan teknologi dan model bisnis. EV mengaburkan batas antara transportasi dan energi, dan itu berarti pemain lama di sektor energi dan otomotif akan dipaksa beradaptasi atau tersingkir.


Dampak paling nyata yang sering dilupakan adalah pada kota. Mobil bensin tidak hanya menciptakan polusi, tetapi juga membentuk arsitektur kota yang boros ruang. Parkiran luas, jalan lebar, lingkungan yang tidak ramah pejalan kaki, dan kemacetan yang dianggap normal. EV memang tidak otomatis menghapus kemacetan, karena kemacetan adalah soal volume kendaraan, bukan jenis mesin. Tetapi EV membuka peluang politik dan sosial untuk merombak prioritas ruang kota. Ketika kendaraan makin senyap dan emisi di pusat kota menurun, tuntutan warga akan ruang publik yang lebih sehat menguat. Lahan parkir bisa dialihfungsikan. Jalur sepeda bisa diperluas. Trotoar bisa dibuat layak. EV seharusnya menjadi pintu masuk untuk membahas ulang mobilitas secara lebih beradab, bukan sekadar mengganti kendaraan tanpa mengubah pola yang merusak.

Dari sisi ekonomi, narasi “EV menciptakan lapangan kerja” memang benar, tetapi tidak selalu nyaman. Pekerjaan baru akan lahir di manufaktur baterai, instalasi charger, rekayasa perangkat lunak, pengelolaan energi, dan daur ulang material. Tetapi pada saat yang sama, industri yang bergantung pada mesin pembakaran dalam akan menyusut. Ini transisi kreatif sekaligus destruktif. Pemerintah yang serius mendorong EV harus jujur bahwa adaptasi tenaga kerja adalah agenda besar, bukan catatan kaki. Jika tidak, transisi akan memunculkan resistensi sosial yang mudah dipolitisasi.

Lalu ada dua hambatan besar yang sering jadi alasan untuk menunda, harga dan infrastruktur. Harga EV masih relatif mahal, terutama karena baterai. Tetapi menunggu harga turun tanpa intervensi adalah cara halus untuk memastikan transisi lambat. Skala produksi dan inovasi memang menurunkan harga, tetapi kebijakan juga menentukan seberapa cepat pasar bergerak. Insentif seperti subsidi, potongan pajak, dan dukungan pembiayaan bukan sekadar “pemanis”, melainkan alat untuk mempercepat titik balik ketika EV menjadi pilihan rasional bagi mayoritas.

Sementara itu, infrastruktur pengisian daya adalah ujian keadilan akses. Orang yang punya garasi akan mudah mengisi di rumah, tetapi penghuni apartemen, kawasan padat, atau pekerja yang parkir di jalan akan tertinggal jika negara tidak membangun jaringan publik yang memadai. Jika transisi EV hanya nyaman untuk kelas tertentu, maka narasi “masa depan hijau” akan terasa seperti proyek eksklusif. Karena itu, pembangunan stasiun pengisian publik, terutama fast charging di lokasi strategis, harus diperlakukan seperti pembangunan infrastruktur dasar, bukan sekadar urusan pasar.

Pada akhirnya, masa depan EV bukan pertanyaan teknologi semata, melainkan pertanyaan tentang pilihan politik, desain kota, dan arah ekonomi. EV bisa menjadi langkah besar menuju transportasi berkelanjutan, tetapi hanya jika kita berhenti menjualnya sebagai sekadar mobil baru yang lebih modern. EV harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem energi bersih, pembaruan ruang publik, dan transformasi industri. Jika tidak, kita akan berakhir dengan kota yang sama macetnya, ruang publik yang sama sempitnya, hanya dengan kendaraan yang lebih senyap.

Transisi ini sedang terjadi. Kita bisa memilih menjalankannya dengan cerdas dan adil, atau membiarkannya berjalan setengah hati sehingga manfaatnya kecil dan konflik sosialnya besar. EV bukan akhir dari masalah mobilitas. EV adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan lama yang selama ini kita anggap normal.