𝕁ℕℝ𝔾𝕐𝕋

JNRGYT

Kalau Suka Jepang, Sampai Mana Masih Wajar? Weaboo, Wapanese dan Batasan

Januari 12, 2019
menit

Saat Kekaguman pada Jepang Pelan-pelan Berubah Jadi Obsesi yang Sulit Dijelaskan
Pernah nggak antum lihat seseorang yang hidupnya terasa seperti berputar penuh di sekitar Jepang? Bukan cuma suka anime, bukan cuma hafal lagu J-pop, tapi sampai cara bicara, cara tampil, nama profil, bahkan cara dia melihat dirinya sendiri, pelan-pelan ikut berubah. Di titik itu, pertanyaannya jadi makin tajam... ini masih sekadar hobi, atau sudah masuk ke wilayah obsesi?

Karena yang bikin ramai bukan cuma soal suka atau tidak suka. Yang bikin gelisah adalah saat rasa suka itu mulai menelan identitas. Saat seseorang bukan lagi sekadar mengagumi sesuatu, tapi seperti ingin menyalin seluruh hidupnya agar terlihat lebih Jepang. Dan cerita ini penting, karena di balik semua itu ada satu isu yang sangat dekat dengan banyak orang: batas antara kekaguman, peniruan, dan kehilangan diri sendiri.

Coba bayangkan suasananya. Seseorang tumbuh di tengah internet, forum, media sosial, event cosplay, musik Jepang, dan dunia pop culture yang begitu kuat. Setiap hari matanya dipenuhi karakter anime, potongan lirik, foto artis Jepang, dan visual yang terasa jauh berbeda dari keseharian di sekitarnya. Lama-lama, dunia itu bukan cuma hiburan. Dunia itu mulai terasa seperti rumah kedua... bahkan kadang lebih nyaman daripada hidupnya sendiri.

Dari luar, mungkin terlihat biasa saja. Ada yang ganti nama akun biar terasa bernuansa Jepang. Ada yang pakai foto profil anime. Ada yang menyelipkan istilah Jepang di obrolan. Ada juga yang mengisi kamar dengan barang-barang bertema Jepang. Satu per satu, tanda itu terlihat seperti bagian dari gaya. Tapi kalau ditarik lebih dalam, semua itu bisa jadi cermin dari sesuatu yang lebih sunyi: keinginan untuk menjadi versi lain dari diri sendiri karena merasa diri yang asli kurang menarik.

Di sinilah konflik mulai terasa. Awalnya mungkin cuma suka satu dua lagu Jepang. Lalu nambah anime. Lalu tertarik cosplay. Lalu mulai pakai istilah Jepang di percakapan sehari-hari. Lalu nama akun berubah. Lalu yang lokal mulai terasa biasa saja, bahkan dianggap kurang keren. Perlahan, kekaguman berubah jadi standar hidup. Dan begitu standar itu bergeser, cara pandang terhadap diri sendiri juga ikut berubah.

Dalam teks sumber, orang seperti ini digambarkan sebagai sosok yang terlalu mengidolakan Jepang, terlalu ingin hidup di sana, terlalu memuja barang asli Jepang, bahkan kadang sampai merendahkan budaya sendiri. Yang paling berat bukan sekadar suka budaya luar, tapi saat seseorang mulai menganggap asalnya sendiri tidak punya nilai. Saat itu terjadi, masalahnya bukan lagi soal selera. Masalahnya sudah menyentuh rasa bangga dan cara seseorang memaknai dirinya sendiri.

Bukan kecintaan pada Jepang yang jadi inti masalah. Yang berbahaya adalah saat kecintaan itu berubah jadi kebencian pada diri sendiri.

Tapi cerita ini tidak sesederhana hitam putih. Karena tidak semua orang yang suka anime, manga, cosplay, atau musik Jepang otomatis layak dilabeli sama. Ada yang memang menikmati karya, ada yang belajar bahasa karena tertarik, ada yang cosplay karena seru, ada yang menjadikan Jepang sebagai sumber inspirasi kreatif. Teks ini juga mengakui hal itu. Jadi, konflik sebenarnya bukan berada pada minatnya, melainkan pada sikap yang menyertainya.

Kenapa Banyak Orang Terlalu Jatuh Cinta pada Jepang Sampai Lupa Diri Sendiri? Semakin jauh dibawa, semakin besar pertanyaannya. Apakah seseorang sedang mengagumi budaya lain, atau sedang berusaha kabur dari identitasnya sendiri? Pertanyaan itu tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang. Dari rasa iri pada sesuatu yang dianggap lebih keren. Dari anggapan bahwa yang datang dari luar selalu lebih layak dibanggakan dibanding yang dimiliki sendiri.

Di titik ini, tensinya naik pelan-pelan. Karena bukan cuma soal nama profil atau gaya bicara. Ini sudah menyentuh rasa malu terhadap nama asli, rasa tak puas terhadap asal-usul, bahkan keinginan untuk terlahir di tempat lain. Saat seseorang mulai melihat hidup di Jepang sebagai satu-satunya bentuk hidup yang pantas, di situlah obsesi mulai kelihatan wajah aslinya. Bukan lagi kekaguman yang sehat, tapi pelarian yang dibungkus estetika.

Yang dicari sebenarnya bukan Jepang itu sendiri, melainkan tempat untuk lari dari diri yang sedang ditolak.

Puncaknya datang ketika fantasi bertemu realitas. Jepang yang selama ini dibayangkan rapi, indah, dan sempurna ternyata tidak sesederhana itu. Ada biaya hidup yang tinggi, ritme masyarakat yang sibuk, dan kenyataan sehari-hari yang jauh dari bayangan manis di kepala. Di sana, mimpi yang dibangun dari internet bisa pecah pelan-pelan, karena dunia nyata selalu punya cara untuk membalas imajinasi yang terlalu berlebihan.

Momen paling emosionalnya ada di sana. Saat seseorang sadar bahwa yang selama ini dipuja bukan cuma budaya Jepang, tapi sebuah versi ideal yang dipakai untuk menutupi ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Dan ketika kebencian pada identitas sendiri jadi bahan bakar utama, yang dikejar sebenarnya bukan kebahagiaan. Yang dikejar hanyalah pelarian.

Setelah semua itu, pelajarannya jadi lebih jernih. Teks sumber tidak sedang melarang orang suka Jepang. Tidak. Suka anime, manga, cosplay, musik, atau bahasa Jepang tetap sah. Yang jadi garis merah adalah ketika minat itu memutus hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Kalau masih bisa menghargai budaya sendiri, keluarga sendiri, dan hidup nyata di sekitarnya, minat itu masih sehat. Tapi kalau semuanya dianggap kalah, kalau yang lokal ditolak mentah-mentah, kalau citra lebih penting daripada keseimbangan hidup, di situlah masalah mulai tumbuh.

Dan justru di situ inti ceritanya terasa paling manusiawi. Kita semua boleh jatuh cinta pada budaya mana pun. Boleh kagum, boleh belajar, boleh ikut menikmati. Tapi jangan sampai kagum itu berubah jadi alasan untuk memusuhi rumah sendiri. Karena begitu seseorang terlalu sibuk memburu bayangan dari luar, dia bisa lupa bahwa yang paling berharga kadang justru sedang berdiri diam di dalam hidupnya sendiri.

Jadi kalau antum tanya, cerita ini sebenarnya tentang apa, jawabannya bukan cuma soal weaboo. Ini cerita tentang identitas, batas, dan bagaimana kekaguman bisa berubah jadi obsesi kalau tidak dijaga. Ini juga cerita tentang rasa bangga yang pelan-pelan bergeser arah, sampai seseorang lupa menghargai dirinya sendiri.

Dan pertanyaan yang paling mengganggu justru bukan, kenapa orang bisa suka Jepang segitunya... tapi di titik mana antum masih mengagumi sesuatu, dan di titik mana antum mulai meninggalkan diri sendiri? Kalau menurut antum, suka budaya luar itu masih aman sampai batas mana?
Suka Jepang Itu Wajar, Tapi Kenapa Ada yang Sampai Kehilangan Identitas?