JNRGYT

Sok Tahu Itu Menular, Kita Semua Pernah Dunning Kruger Effect

Februari 22, 2019
menit
Antum pernah lihat debat kesehatan di medsos yang bikin kepala panas… tapi juga bikin takut? Semalam, aku lihat satu perdebatan viral: soal GERD, asam lambung naik, katanya nyambung ke penyakit jantung sampai bisa bikin meninggal. Di satu sisi ada dokter spesialis jantung yang bilang, “nggak ada hubungan langsung.” Di sisi lain, netizen ngegas… yakin banget, bahkan lebih yakin daripada dokternya. Dan di momen itu aku kepikiran satu hal yang agak serem… jangan-jangan yang bikin kita rawan bukan cuma penyakitnya, tapi rasa “paling tahu” yang kita pelihara tiap hari.

Jadi, di cerita ini aku mau ngajak antum ngelihat sesuatu dari sudut pandang lain. Bukan buat nyalahin siapa-siapa, bukan buat sok jadi wasit debat… tapi buat nanya pelan-pelan: kenapa di zaman serba cepat ini, banyak orang baru baca satu utas, nonton satu TikTok edukatif, ikut satu webinar… langsung merasa jadi pakar? Dan lebih penting lagi… kenapa kebiasaan itu diam-diam bisa nyenggol kesehatan mental kita?

Bayangin suasananya. Malam, layar HP terang, kolom komentar rame. Ada istilah medis bertebaran, ada potongan screenshot, ada kalimat tegas pakai huruf kapital. Yang bikin intens… topiknya bukan soal film atau bola. Ini soal tubuh. Soal nyawa. Makanya orang gampang tersulut. Terus aku tarik mundur sedikit… ini bukan cuma tentang GERD versus jantung. Ini tentang pola yang makin sering muncul di ruang kelas, grup chat, tongkrongan, bahkan forum keluarga. Obrolan yang harusnya diskusi sehat berubah jadi adu gengsi. Dan anehnya, makin tipis bekalnya, makin tebal keyakinannya.

Di psikologi, fenomena ini punya nama: Efek Dunning-Kruger. Intinya begini… orang yang pengetahuannya masih sedikit di suatu bidang, sering merasa dirinya paling paham. Sementara orang yang benar-benar belajar dan makin ahli, justru sering ragu. Bukan karena bodoh, tapi karena mereka sadar: “Wah, ternyata luas banget. Ternyata banyak yang belum aku tahu.” Ada riset klasik dari tahun 1999 oleh dua psikolog Cornell, David Dunning dan Justin Kruger. Mereka ngetes orang soal logika, tata bahasa, dan humor. Yang performanya paling rendah justru menilai dirinya jauh di atas rata-rata. Bahkan ada contoh ekstrem: orang di sekitar persentil ke-12, ngerasa dirinya di sekitar persentil ke-62. Kenapa bisa begitu? Karena ada masalah metakognisi… kemampuan buat ngukur pikiran dan performa diri sendiri. Kalau kemampuan dasar aja belum kebentuk, kita juga jadi nggak punya alat buat sadar kalau kita salah. Ini semacam kutukan dobel: salahnya dapet, sadar-salahnya nggak dapet. Dan makin ke sini, pola itu makin kelihatan di pendidikan kita. Murid bisa ngerasa lebih pintar dari guru cuma karena ngikutin konten populer. Mahasiswa awal semester bisa ngerasa lebih ngerti dari dosennya karena udah ikut pelatihan online. Sementara yang sebenarnya mampu… sering kebalikannya. Overthinking, takut salah, ngerasa kurang, lalu pelan-pelan krisis percaya diri. Ada yang nyebut ini dekat dengan fenomena “impostor syndrome” rasa kayak “aku kok kayaknya nggak sepantes itu ya.” Tensinya makin naik waktu aku sadar… ini nyambung ke sesuatu yang lebih sunyi: kesehatan mental. Kepercayaan diri yang nggak realistis itu kelihatan keren di awal. Apalagi di medsos, pede itu seperti mata uang. Masalahnya, ketika realitas datang dan nggak sesuai ekspektasi… gagal tes, ditolak magang, dimarahin atasan, dikritik dosen… ilusi itu runtuh. Dan runtuhnya bisa brutal. Muncul cemas. Muncul minder. Kadang jadi sedih yang berkepanjangan. Bukan karena orangnya lemah… tapi karena dia dibesarkan dalam tuntutan “harus selalu tahu” dan “harus selalu benar.” Padahal manusia butuh ruang buat bodoh dulu, baru pintar. Di titik ini, aku juga lihat dua dunia yang sama-sama kejam. Sekolah masih sering menilai dari angka, bukan proses berpikir. Medsos menilai dari likes dan views, bukan substansi. Jadilah kita dikejar dua arah: cepat bisa, cepat paham, cepat sukses. Padahal pemahaman yang bener itu lambat. Butuh waktu. Butuh latihan. Butuh rendah hati.

Balik lagi ke debat GERD dan jantung itu… momen puncaknya bukan ketika komentar makin panas. Tapi ketika aku sadar: Banyak orang sebenarnya bukan pengen belajar. Mereka pengen menang. Dan di situlah Efek Dunning-Kruger jadi berbahaya. Bukan sekadar “gaya sok tahu.” Tapi pola psikologis yang bisa ngerusak cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Ada yang namanya overprecision: terlalu yakin jawaban kita paling akurat. Ada juga overplacement: merasa diri lebih hebat dari orang lain. Dan ini sering terlihat meyakinkan, karena orang pede itu terdengar kompeten… padahal bisa aja cuma keras suaranya. Twist-nya begini… yang paling rentan kena, bukan cuma “orang lain” yang antum sebelin di komentar. Kadang… kita juga. Aku juga. Antum juga. Kita semua pernah ada di fase merasa “oh ini gampang,” lalu baru sadar belakangan: “Waduh, ternyata aku baru nyentuh permukaannya.”

Terus habis itu gimana? Apakah solusinya semua orang harus diem dan nggak boleh berpendapat? Nggak juga. Tapi aku percaya kita perlu balikin budaya belajar yang jujur. Budaya yang mengizinkan kalimat sederhana ini hidup lagi: “Aku belum paham.” Aneh ya… di internet, kalimat itu terasa seperti dosa. Padahal di dunia nyata, itu tanda mental yang sehat. Buat pendidik dan orang dewasa, kepekaan itu penting. Dorong murid buat bertanya, bukan cuma jawab. Dorong diskusi tanpa takut dipermalukan. Bantu mereka ngerti bahwa gagal itu bagian dari tumbuh, bukan aib. Dan buat kita yang hidup di medsos, belajar dari mana aja boleh… tapi satu konten jangan dijadikan kitab suci. Saring, bandingkan, cari feedback dari orang yang memang ahli. Karena pengetahuan itu bukan cuma soal kumpulin informasi, tapi soal ngolah dan ngetesnya. Pada akhirnya, semakin kita tahu, biasanya kita makin sadar: kita belum tahu banyak. Dan anehnya… kesadaran itu bukan bikin kita kecil. Justru bikin kita lebih kuat. Lebih waras. Lebih tahan banting.

Aku tutup dengan satu pertanyaan yang agak nyentil… tapi jujur: Kalau antum gampang tersinggung saat dikoreksi, itu karena argumennya yang kuat… atau karena egonya yang kebakaran? Coba tulis pendapat antum. Antum setuju nggak kalau kita lagi membesarkan generasi yang pede duluan, paham belakangan? Atau menurut antum ini cuma lebay dan “namanya juga internet”? gimana bedain “percaya diri sehat” versus “percaya diri palsu” tanpa jadi orang yang sinis. …Sampai sini dulu. Tapi obrolannya jangan berhenti di sini.